SEJARAH PULAU TIDUNG

DSC00532

SEJARAH PULAU TIDUNG

Pulau Tidung merupakan suatu Pulau Wisata yang sangat diminati wisatwan domestik, selain memang harganya termasuk yang murah dengan fasilitas yang lengkap walaupun dengan bagpacker style, dengan penginapan homestay yang disewa2kan oleh penduduk setempat, tidak mengurangi keunggulan Pulau ini untuk dijadikan tempat wisata yang ngeTOP untuk saat ini.

Kami dari pihak Nine Tours Indonesia ingin sedikit memberikan ilmu yang bermanfaat, bahwa Pulau Tidung ini memiliki sejarah/mitos yang sangat luar biasa untuk kita ketahui.  Jadi selain menikmati keindahan laut yang dimiliki Pulau Tidung ini tersimpan misteri yang benar-benar menjadi ilmu buat wisatawan.

Pulau Tidung diambil dari nama tempat yang ada di daerah Kalimantan Timur desa malinau yaitu “tana tidung” diambilnya nama “tidung” karena yang memberi nama adalah seorang Raja dari suku Tidung yang diusir oleh kolonial belanda karena tidak mau diajak kerjasama. nama dari Raja tersebut adalah Raja Pandita alias Kaca alias Sapu. setelah diusir dari tanah tidung Raja Pandita melanglang buana sampai ke Jepara lalu beliau hijrah hingga akhirnya sampai di sebuah pulau yang sekarang dikenal dengan nama Pulau Tidung.

292475_327453170672531_992124336_n

Dari sekian ratus Tahun masyarakat Pulau Tidung tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa Raja Pandita adalah seorang Raja dari Kalimantan Timur karena selama beliau singgah di Pulau Tidung beliau tidak pernah membawa gelarnya sebagai raja beliau hanya dikenal dengan sebutan “Kaca”. Sampai meninggalnya pun Kaca hanya dikenal sebagai masyarakat biasa yang tidak beda dengan masyarakat lainnya.

Pada suatu hari datanglah sekelompok keluarga Raja Pandita dari Kalimantan dan mencari tahu tentang pulau ini mengapa bernama Pulau Tidung? singkat cerita keluarga Raja Pandita dari Kaltim bertemu dengan keluarga Kaca di Pulau Tidung  ketika keluarga Raja Pandita Bertanya kepada keluarga Kaca dan ternyata menurut kelurga Raja Pandita bahwa Kaca adalah nama kecil Raja Pandita sebelum diangkat dari Raja. dan akhirnya keduanya mengambil kesimpulan bahwa nama Pulau Tidung di beri nama dari Raja Pandita yang berasal dari tanah tidung Kalimantan Timur.

Cerita lain menurut HIMPALAUNAS.COM, KEPULAUAN SERIBU – Ternyata di Pulau Tidung terdapat sebuah makam Raja Pandita yang dahulu diasingkan kolonial Belanda.

Pada masa penjajahan Belanda, Pulau Tidung dijadikan tempat pengasingan bagi siapa saja yang membangkang kepada pemerintahan kolonial. Muhammad Kaca adalah salah satunya. Nama

Tidung pun ia namakan sesuai dengan sukunya di Kalimantan Timur, yaitu suku Tidung. Sebelumnya, bernama pulau Air Besar.

553186_327468304004351_1047603207_n

Muhammad Kaca lahir pada tahun 1817, dia berasal dari daerah Malinau, Kalimantan Timur. Nama aslinya adalah Muhammad Sapu. “Muhammad Kaca adalah nama samarannya saat diasingkan ke pulau Tidung oleh kolonial Belanda,” kata Edy Rukhiyat yang merupakan generasi ke empat dari Muhammad Kaca, Minggu (12/2).

Dia adalah tokoh penentang imprialisme Belanda pada masanya, hingga kemudian diasingkan pada tahun 1892 di pulau Tidung dan wafat pada tahun 1898. Ia pun dimakamkannya di sebelah barat pulau Tidung.

Selanjutnya, suku Tidung yang berada di Malinau, Kalimantan Timur mengetahui kalau di Kepulauan Seribu ada sebuah pulau yang dinamai pulau Tidung. Kemudian, beberapa orang dari suku Tidung mendatangi dan mencari asal-usul alasan pulau tersebut diberi nama pulau Tidung. Dengan harapan menemukan keterkaitan dengan sukunya, serta mencari makam Raja Tidung, yaitu Raja Pandita,  yang tidak diketahui keberadaan makamnya.

Pada bulan Februari 2011, ditemukanlah makam yang diyakini lokasi Raja Pandita dikebumikan, yang tak lain Muhammad Kaca. Ternyata, Muhammad Kaca adalah Raja Pandita, seorang raja dari kerajaan Tidung yang berada di Malinau, Kalimantan Timur yang pernah diasingkan.

“Waktu itu, penemuan makam Raja Pandita sempat menghebohkan seluruh masyarakat pulau Tidung,” ujar Edy.

Pemindahan makam dimulai dengan menggali makam Raja Pandita beserta makam istrinya, Thea dan anaknya Hamidun. Prosesi pemindahan makam menggunakan adat dan tradisi suku Tidung, kerangka ketiganya dipindahkan ke lahan pemakaman baru yang berbentuk bangunan seluas 9×25 meter persegi di lahan TPU Pulau Tidung.

Pada tanggal 3 Juli 2011, Bupati Kepulauan Seribu, Achmad Ludfi dan Bupati Malinau, Yansen TP meresmikan komplek pemakaman Raja Pandita, Muhammad Kaca sebagai cagar budaya, sebuah bukti sejarah yang harus dijaga. (Roberto Elordes/fir)

MITOS DAN SEJARAH KEPULAUAN SERIBU

IMG_9360

Sejarah pulau-pulau dikepulauan seribu terbagi tiga massa, yang pertama massa kerajaan sejarah nama pulau pulau dipulau seribu lebih bersifat mitos, tidak banyak ditemukan bukti sejarahnya, namun pada massa ini sebagai cikal bakal nama pulau pulau dipulau seribu, namun sangat disayangkan dalam perjalanan waktu nama pulau-pulau banyak diganti oleh penguasa dan pengusaha.

Masa kedua kami sebut massa penjajahan, pada massa ini nama pulau-pulau dikepulauan seribu banyak diganti namanya oleh penjajah terutama oleh kolonial belanda, hal ini dibuktikan oleh nama dan peninggalan sejarahnya

BAGI WARGA PULAU TIDUNG KEPULAUAN SERIBU SELATAN MUNGKIN TIDAK ASING LAGI MENDENGAR NAMA WA’TURU ATAU “PANGLIMA HITAM” YANG BERASAL CIREBON BANTEN JAWA BARAT. KONON CERITANYA BELIAU SUDAH LAHIR PADA JAMAN KERAJAAN SYARIF HIDAYAH TULLAH DAN DIPERCAYAI OLEH MASYARAKAT SETEMPAT ADALAH ORANG YANG PERTAMA KALI MENGINJAKAN KAKINYA DI PULAU TIDUNG.

BERAWAL DARI PEPERANGAN KERAJAAN SYARIF HIDAYAH TULLAH MELAWAN KOLONIAL BELANDA DAN PASUKAN YANG DIPIMPIN OLEH PANGLIMA HITAM KALAH DALAM PERANG HINGGA AKHIRNYA MELARIKAN DIRI. SAAT ITULAH WA’ TURU DAN BEBERAPA PRAJURIT LAINNYA MELARIKAN DIRI KEPULAU TIDUNG UNTUK MENCARI PERLINDUNGAN DARI SERANGAN TENTARA BELANDA. HINGGA PADA AKHIRNYA DATUK DAN BEBERAPA SAHABATNYA MEMUTUSKAN PULAU TIDUNG BESAR INI DI JANDIKAN SEBAGAI TEMPAT PERSINGGAHAN (TEMPAT TINGGAL) HINGGA SAMPAI AKHIR KHAYATNYA.417425_327453884005793_103361764_n

CERITA INI BERMULA DARI TABIR MIMPI SUGENG, SALAH SATU WARGA PULAU TIDUNG BESAR BERTEMU DENGAN SI PANGLIMA HITAM, DALAM MIMPINYA IA DI PERINTAHKAN UNTUK MENCARI MAKAM ORANG PERTAMA INI. HINGGA PADA TANGGAL 31 DESEMBER 2006 MAKAM TERSEBUT DITEMUKAN, TERDAPAT DISEBELAH TIMUR PULAU TIDUNG KECIL TEPATNYA DI BAWAH POHON KEDONGDONG BESAR SERTA OLEH WARGA DIBERSIHKAN, MAKAMNYA PUN DI KERAMIK DAN HINGGA SEKARANG DI JADIKAN TEMPAT ZIARAH BAGI MASYARAKAT SETEMPAT. PENINGGALANNYA PUN YANG MASIH TERSISAH HINGGA KINI DIABADIKAN DIDEKAT MAKAMNYA SEPERTI KERIS,PEDANG,GUCI, GENDI DAN TEMPAT BERIBADAH SEWAKTU IA MASIH HIDUP.

TIDAK HANYA MENJADI TEMPAT ZIARAH BAGI MASYARAKAT PULAU TIDUNG SAJA, MAKAM WA’TURU (PANGLIMA HITAM) INI JUGA MENJADI SALAH SATU OBJEK WISATA SEJARAH YANG MENGASIKKAN BAGI WARGA JAKARTA YANG BERKUNJUNG KEPULAU INI. SEPERTI YANG DI LAKUKAN OLEH ANAK-ANAK UNIVERSITAS UNINDRA YANG BERTEMPAT DI PASAR REBO JAKARTA TIMUR MEREKA ASIK MENGABISKAN MASA LIBURAN DI PULAU TIDUNG KECIL INI. “SELAIN MEMANCING DAN BERENANG DI LAUT, KAMI JUGA BISA MENGETAHUI SEJARAH DI PULAU TIDUNG INI”, KATA RIO SALAH SATU MAHASISWA YANG IKUT BERLIBUR. IA JUGA MERASA SANGAT SENANG BISA BERLIBUR DI PULAU TIDUNG INI. SELAIN ITU HAMPARAN PASIR PUTIH DAN DERU OMBAK MENAMBAH ASIKNYA BERLIBUR DI PULAU YANG TIDAK KALAH BAGUSNYA DENGAN WISATA YANG ADA DI BALI.

DSC_6825

MAKAM PANGLIMA HITAM YANG TERLETAK DI PULAU TIDUNG KECIL KELURAHAN PULAU TIDUNG BESAR KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN BANYAK DIKUNJUNGI DARI BERBAGAI DAERAH. HAL INI DIUNGKAP OLEH SUHARTA (64) PENJAGA MAKAM ORANG PERTAMA DI PULAU ITU. WARGA YANG BERJIRAH BERASAL DARI CILACAP, CIAMIS, BELITUNG DAN WARGA DARI PULAU KELAPA PUN PERNAH BERJIARA KEMAKAM INI. “KEBANYAK YANG BERJIARAH KEMAKAM INI, UNTUK MENGADAKAN TAHLIL DAN YASINAN UNTUK MEMINTA KESELAMATAN”, KATA SUHARTA SELAKU PENJAGA MAKAM.

Ayah dari 5 orang anak ini juga menambahkan,kebanyakan para pe-jiarah yang datang kemakam ini pada malam jum’at keliwon dan hari libur. Makam yang mempunyai panjang 3,5 meter konon ceritanya adalah orang yang pertama kali menginjakan kakinya di Pulau Tidung Kecil ini. Nama makam tersebut adalah Ratu Pendekar Badui atau yang lebih dikenal adalah Panglima Hitam.

DI PULAU TERSEBUT JUGA TERDAPAT 3 MAKAM YAITU MAKAM WA’TURU DAN MUHAMMAD DUA ORANG INI ADALAH PENGAWAL SETIA RATU PENDEKAR BADUI, PENDEKAR BADUI INI MELARIKAN DIRI BERSAMA KEDUA PENGAWALNYA KEPULAU TIDUNG KECIL UNTUK MENGHINDARI DARI KEJARAN SEH MAULANA MALIK IBRAHIM. KONON RATU PENDEKAR BADUI ADALAH SEORANG NON MUSLIM YANG DI PERANGI OLEH SEH MAULANA MALIK IBRAHIM, SEBELUM AKHIRNYA IA MASUK DAN MEMELUK AGAMA ISLAM BERSAMA KEDUA ANAK BUANYA TERSEBUT.

399487_327900310627817_1349110059_n

Sehingga Pulau Tidung ini dijuluki dengan sebutan Pulau Berlindung. Suharta memang bukan warga Pulau Tidung asli, warga asal Ciracas ini baru 4 tahun tinggal di Pulau Tidung Kecil ini. “Salain menjaga makam saya juga, bercocok tanam dan menanam rumput laut”, kata suami dari Emuh Rohayati ini. Walupun tidak di bayar merawat makam, ia pun merasa rela merawat serta menjaga makam orang pertama ini.

Berbagai peninggalannya pun masih ada seperti pecahan Guci, Piring, Serta besih-besih tua, namun sayangnya tidak di rawat dan di biarkan saja berada di dalam karung.Walaupun belum dijadikan objek wisata lokal oleh Pemerintah setempat,untuk mengatisipasi kelangsungan makam tua itu, inisiatif dari seorang penjaga membuat kotak amal, sehingga dengan begitu bagi penjira setiap datang wajib memberikan sedekah. Dari hasil tersebut kini di dekat makam itu sedang di buat Musolah serta untuk perbaikan makam lain disekirtar makam tersebut.

33963_293280224089826_1665742919_n

Tidak haya itu saja 7 makam makam Seh terdapat di Pulau Tidung Kecil ini seperti Makam Seh Maulana Malik Ibrahim, Seh Susu, Seh Subandari, Seh Saidina Ali, Seh Magelang, Seh Kalang Lumajang dan makam Seh Sarif Hidayatullah. Makam yang sudah ada 200 tahun ini kini manjadi primadona bagi para pejiarah baik bagi warga Pulau Tidung maupun dari berbagai penjuru daerah.

ADA SEBUAH SUMUR YANG HINGGA KINI MASIH DIPERCAYA WARGA PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU SELATAN YANG BISA MENGOBAT BERBAGAI JENIS PENYAKIT. SUMUR YANG TERLETAK DI PULAU TIDUNG KECIL YANG BERSEBELAHAN DENGAN PULAU TIDUNG BESAR DINAMAI OLEH WARGA PULAU TIDUNG DENGAN NAMA “SUMUR BAWANG”.

Sumur yang baru ditemukan sekitar pertengahan tahun 2007 ini, dipercayai sudah ada semenjak tahun 1881, pada jaman Seh Maulana Malik Ibrahim. Letaknya sendiri sekitar 25 meter dari makam Ratu Pangeran Badui (Panglima Hitam).

PENEMUAN SUMUR BAWANG YANG DIPERCAYA BISA MENGOBATI MULAI DARI PENYAKIT KULIT HINGGA PENYAKIT LAIN INI, BERAWAL DARI PENERAWANGAN SALAH SATU ORANG KIYAI DARI BANTEN TANGGERANG YANG MEMPUNYAI ILMU KANURAGAN TINGGI YANG BISA MENERAWANG SERTA MEPUNYAI INDRA KE ENAM.

Sebenarnya, di Pulau Tidung Kecil, ada tiga sumur yang dipercaya warga bisa mengobati berbagai jenis penyakit dan sumur ini yang terakhir ditemukan karena berada di tengah hutan.542550_301266486624533_1661966393_n

Warga yang hendak mengambil air dari sumur ini pun tidak bisa mengambilnya sendiri. Menurut Suharta (64) warga Pulau Tidung ada beberapa syarat yang harus dipenuhi baru kemudian air bisa diambil dan dibawa pulang. Kini, sumur tersebut sudah dipagari untuk menjaga kebersihan sekitar sumur.

 Makam Raja Tidung Ditemukan

Teka-teki di mana Raja Tidung bergelar Raja Pandita dimakamkan akhirnya terjawab. Setelah dilakukan pencarian selama empat tahun, tokoh yang pernah sangat dihormati etnis Tidung itu ada di Kecamatan Tanah Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Atas kesepakatan Lembaga Adat Besar Tidung Kalimantan Timur bersama pemerintah, diputuskan untuk membongkar kuburan tersebut dan memindahkan ke kuburan baru di tanah para leluhur, tempat suku-suku Tidung bermukim di Kalimantan Timur. Prosesi pembongkaran dilaksanakan hari Minggu, 3 Juli 2011, dihadiri para tokoh dan sesepuh adat Tidung.

Makam Raja Pandita ditemukan berada di tanah milik Almarhum Frans Seda dalam keadaan ‘merana’, karena tidak terawat. Frans Seda adalah tokoh nasional yang pernah menjadi Menkeu di awal Orde Baru (1966-1968), dan pernah menjabat antara lain adalah Menteri Perkebunan dalam Kabinet Kerja IV (1963-1964) dan Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973) dalam Kabinet Pembangunan I.

Bupati Malinau, Yansen TP, memimpin langsung rombongan warga Tidung sebanyak 120 orang. Untuk lancarnya pemindahan Pemkab Malinau mencarter tiga maskapai penerbangan, untuk mengangkut mulai Kepulauan Seribu, Jakarta hingga Tarakan dan Malinau.

“Makam Raja Pandita ini jejak sejarah Suku Tidung yang pernah berjuang untuk Negara Republik Indonesia, melawan penjajahan Belanda. Selaku pemerintah, tentu kita sangat menghormati ditemukan Raja Tidung ini,” ujar Yansen kepada Bmagazine, Sabtu (2/7)._MG_7910

Sekretaris Umum Lembaga Adat Besar Tidung Kaltim, Syafarudin, menceritakan, usaha pencarian Raja Tidung telah dilakukan sejak empat tahun silam atas inisiatif lembaga adat. Tim menelusuri jejak Raja Pandita setelah dikabarkan tertangkap oleh Belanda dan diasingkan. Menurut Ketua Adat Tidung Malinau Kota, Baharudin, Raja Pandita ditawan oleh Belanda setelah jatuh korban dalam jumlah besar saat perang Tidung pecah melawan Belanda di Malinau tahun 1890.

Pencarian jejak sejarah itu dilakukan ke seluruh penjuru Indonesia. Dengan mengumpulkan data-data dari berbagai kesultanan, mendatangi situs sejarah, termasuk museum nasional. Literatur tentang Raja Pandita juga dikumpulkan dan kemudian baru mendapat sedikit petunjuk setelah memperoleh museum di Jepara.

Syafaruddin menambahkan, Sekretaris Museum Jepara ternyata mengetahui seluk-beluk tentang Raja Pandita. Ada data yang menunjukkan Raja Pandita bersama dua orang kepercayaannya – pengawal dan sekretaris – pernah bermukim di Jepara.

Di Jepara Raja Pandita juga sempat bergabung dengan Raja Jepara untuk melawan penjajahan Belanda. Oleh Kerajaan Jepara, Pandita diberi gelar Sekaca, karena keberaniannya melawan Belanda.521647_3809822290672_1176740119_n

Karena kegigihan melawan Belanda, Raja Pandita ditangkap kembali dan dibawa Belanda ke Batavia sebagai tawanan pemerintahan Belanda. Dari Batavia Raja Pandita bersama pengawal serta sekretarisnya dibuang ke Kepulauan Seribu sekitar tahun 1892.

Dari tempat pengasingan di Kepulauan Seribu itu Raja Pandita masih berjuang mengumpulkan kekuatan.  Namun jejak sejarah itu terputus hingga kematian dan dikuburkan di tanah tersebut. Tanah itu kemudian diketahui milik Frans Seda yang bernama lengkap Franciscus Xaverius Seda.

Namun sisa-sisa kejayaan Raja Pandita di tempat pembuangannya masih bisa dilihat dengan dinamakannya daerah pembuangan itu dengan nama Desa Tidung. Warga setempat tidak menggunakan bahasa Betawi, namun bahasa melayu. “Bahasa warga di sana logatnya mirip dengan logat bahasa di Malinau,” cerita Syafarudin.

Ditemukannya makam itu, merupakan pembuktian sejarah Tidung yang menggambarkan kegigihan suku tersebut melawan penjajah. “Kalau situs ini hilang maka orang Tidung tak akan memiliki bukti sejarah pernah andil dalam memperjuangkan kemerdekaan republik Indonesia dari tangan penjajahan Belanda,” kata Baharudin. Proses penggalian makam juga diwarnai dengan prosesi adat dan pementasan budaya Tidung. Seluruh rombongan dari Malinau juga diwajibkan menggunakan pakaian adat Tidung. # M Sakir

PULAU Tidung di Kepulauan Seribu saat ini popularitasnya semakin meningkat. Keindahan bawah laut dan  jembatan cinta yang menjadi ikon Pulau Tidung telah menarik banyak wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini. Namun sayangnya, belum banyak yang tahu bahwa pulau ini memiliki potensi wisata sejarah dan wisata flora yang dapat Anda nikmati.298736_344772302273951_2105852610_n

Wisata sejarah di Pulau Tidung memang belum sepopuler keindahan alam bawah lautnya. Pulau ini memiliki potensi wisata sejarah karena di sini terdapat makam seorang raja yang dibuang oleh para penjajah dari kolonial Belanda. Raja tersebut adalah Raja Pandita, seorang raja yang berasal dari Kalimantan Timur. Raja Pandita merupakan raja Kerajaan Tidung yang terletak di Kuala Malinau, Kalimantan Timur.

Sebelumnya, tidak ada yang tahu bahwa Raja Pandita yang lebih akrab dipanggil kaca ini adalah seorang raja yang begitu dihormati. Kerendahan hati Raja Pandita membuatnya tidak membawa gelar kerajaannya kketika bermasyarakat di pulau ini. Hingga akhirnya, datanglah keluarga Raja Pandita ke Pulau Tidung untuk menanyakan asal muasal nama Pulau Tidung. Setelah kejadian tersebut, barulah diketahui bahwa Raja Pandita merupakan salah satu raja yang berjuang mempertahankan kerajaannya dari jajahan Belanda. Nama Pulau Tidung pun merupakan pemberian nama dari Raja Pandita. Tidung berasal dari sebuah suku di Kalimantan Timur yaitu Suku Tidung.

Pada tahun 2011, dilakukanlah pemindahan makam Raja Pandita dari yang awalnya terletak di ujung barat ke area pemakaman saat ini. Pemindahan makam tersebut dihadiri oleh keluarga Raja Pandita yang berasal dari Pulau Tidung dan aparat pemerintahan baik dari Kuala Malinau maupun dari Pulau Tidung dan Kepulauan Seribu. Acara tersebut dilakukan pada hari Sabtu ketika para wisatawan sedang membanjiri pulau ini. Pemilihan hari tersebut sengaja dilakukan sebagai salah satu usaha untuk memberitahukan kepada para wisatawan bahwa Pulau Tidung memiliki potensi wisata sejarah.22487_369937923090722_114763795_n

Namun sayangnya, wisata sejarah ini masih kalah populer dibandingkan dengan wisata bahari Pulau Tidung. Kurangnya bukti dan pengembangan mengenai situs ini menjadi salh satu kendala. Benyamin, S. Sos selaku Lurah Pulau Tidung pun mengakui kurang populernya wisata sejarah di pulau ini.

“Selain wisata bahari, sebenarnya Pulau tidung bisa dijadikan tempat tujuan wisata sejarah juga. Kalau bisa lebih dipromosikan wisata sejarah ini. Karena ini merupakan salah satu sejarah penting dari kehidupan kerajaan di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda,” ujar lurah yang telah mengabdi selama 2 tahun ini ketika dihubungi Okezone melalui saluran telefon.

Semakin populernya Pulau Tidung di mata wisatawan local maupun mancanegara menuntut pulau ini untuk terus berbenah dan mengembangkan dpotensi wisatanya. Jika selama ini Pulau Tidung Besar menjadi tujuan utama para wisatawan, saat ini pemerintah sedang merencanakan untuk mengembangkan Pulau Tidung Kecil.

Selain wisata Sejarah di Pulau Tidung Besar, Pulau Tidung Kecil memiliki potensi wisata flora. Di Pulau Tidung kecil ini rencanaya akan dijadikan tempat agrowisata yang meliputi outbound, tempat camping, wisata petualangan, dan wisata flora. Walaupun pengembangan ini masih dalam tahap perencanaan, namun pemerintah Pulau Tidung akan bekerja sama dengan pihak swasta agar rencana ini dapat terlaksana lebih cepat.599748_327462250671623_257467047_n

Demikian sejarah singkat mengenai Pulau Tidung, dimana ternyata ada 2 versi yang menjelaskan tentang sejarah pulau Tidung, tetapi bagaimanapun juga wisata sejarah Pulau Tidung patut kita perkenalkan ke wisatawan agar mengenal secara jelas mengenai Pulau ini.

sejarah pulau onrust

sejarah pulau onrust

Pulau Kelor dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof merupakan salah satu benteng pertahanan Hindia Belanda yang memusatkan kegiatannya di Pulau Onrust. Setidaknya ada tiga benteng Martello (benteng bulat dari bata yang dibuat dengan meniru benteng Mortella di Corsica), di tiga gugusan pulau yaitu Pulau Kelor itu sendiri, Pulau Bidadari dan Pulau Onrust. Hanya dua yang masih meninggalkan jejaknya sementara benteng yang di Pulau Onrust sudah hilang jejaknya akibat penjarahan besar-besaran di tahun enam puluhan. Yang tersisa hanya sebuah lubang dengan sebuah plang yang menandakan disitulah dulu sebuah benteng bulat berdiri.

Masyarakat sekitar juga menyebut pulau ini sebagai Pulau Kuburan. Konon beberapa pemberontak memang dimakamkan di sekitar benteng. Salah satunya adalah pemberontak yang melawan Belanda dari atas kapal Zeven Provincien pada Februari 1933. Sayang, kini setengah bagian luar benteng tertutup semak-semak sehingga tak mudah dijelajahi.
Bangunan benteng yang asli sebenarnya jauh lebih luas daripada yang bisa disaksikan sekarang. Benteng yang tersisa hanya bagian dalamnya. Sebagian besar benteng runtuh dan terendam air karena abrasi yang mengikis pulau.

KEPULAUAN SERIBU

SEKILAS KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN SERIBU

1.    Sejarah Terbentuknya

 

Peta wilayah Kab. Adm. Kep. Seribu

Kepulauan Seribu yang terletak di Laut Jawa dan Teluk Jakarta merupakan wilayah dengan karakteristik dan potensi alam yang berbeda dengan wilayah DKI Jakarta lainnya, sebab wilayah ini pada dasarnya merupakan gugusan pulau-pulau terumbu karang yang terbentuk dan dibentuk oleh biota koral dan biota asosiasinya (algae, malusho, foraminifera dan lain-lain) dengan bantuan proses dinamika alam.

Sesuai dengan karakteristik tersebut  dan kebijaksanaan pembangunan DKI Jakarta, maka pengembangan wilayah Kepulauan Seribu diarahkan terutama untuk :

  • Meningkatkan kegiatan pariwisata
  • Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat nelayan melalui peningkatan budidaya laut
  • Pemanfaatan sumber daya perikanan dengan konvervasi ekosistem terumbu karang dan mangrove.

Pembagian Wilayah Pengembangan (WP) dimana Kepulauan Seribu termasuk salah satu WP, diatur dalam Perda No. 6 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta. Pembagian WP didasarkan pada karakteristik fisik dan perkembangan masing-masing wilayah dengan rincian sebagai berikut :

  1. Wilayah Pengembangan Utara, yang teridiri dari WP Kepulauan Seribu(WP-KS) dan WP Pantai Utara.
  2. Wilayah Pengembangan Tengah, yang terdiri dari WP Tengah Pusat, WP tengah Barat dan WP Tengah Timur.
  3. Wilayah Pengembbangan Selatan, terdiri dari WP Selatan Utara an WP Selatan Selatan.

Seperti telah disebutkan bahwa salah satu arahan pengembangan wilayah Kepulauan Seribu adalah peningkatan kegiatan pariwisata. Namun bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat kegiatan pariwisata belum memberi kontribusi yang berarti. Ekploitas perairan laut seperti perikanan, pertambangan dan transportasi laut bahkan menimbulkan dampak lingkungan yang merusak. Misalnya penangkapan ikan menggunakan bahan beracun atau bahan peledak merusak lingkungan perairan dan terumbu karang.

Minimnya sarana transportasi dan telekomunikasi membuat Kepulauan Seribu “terisolar” dari kawasan lainnya di DKI Jakarta. Selain itu rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi, minimnya sarana dan prasarana serta persebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

 

Pulau Pramuka Ibukota Kab. Adm. Kep. Seribu

Untuk mendongkrak perkembangan Kepulauan Seribu dalam segala aspek antara lain kelestarian lingkungan, konservasi sumberdaya alam, ekonomi, sosial budaya dan kesejahteraan rakyat, maka Kecamatan Kepulauan Seribu yang merupakan bagian dari wilayah Kota Administrasi Jakarta Utara ditingkatkan statusnya menjadi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Ketentuan ini diatur dalam Undang-undang Nomor 34 tahun 1999 tanggal 31 Agustus 1999 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta dan Peraturan Pemeritah Nomor 55 tahun 2001 tanggal 3 Juli 2001 tentang Pembentukan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Peningkatan status menjadi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu diikuti dengan pemekaran kecamatan dari 1 (satu) menjadi 2 (dua) kecamatan dan 4 (empat) kelurahan menjadi 6 (enam) kelurahan, serta sebagai ibukota Kabupaten diputuskan Pulau Pramuka. Sedangkan mengenai Penataan Ruang, telah dibuat Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yang mengacu pada RTRW Provinsi DKI Jakarta.

2.   Pemerintahan

Secara administrasi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu memiliki luas wilayah 8,76 Km2 (875,55Ha), yang tebagi menjadi dua Kecamatan dan 6 Kelurahan dan 111 pulau. Rincian Kecamatan dan Kelurahan di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu adalah sebagai berikut:

  1. Kecamatan Kepulauan Seribu Utara (terdiri dari 81 pulau)

a.   Kelurahan Pulau Kelapa

  1. Bundar
  2. Cina
  3. Dua Barat
  4. Genteng Besar
  5. Genteng Kecil
  6. Gobong Rengot
  7. Hantu Barat
  8. Hantu Timur
  9. Jukung
  10. Kaliage Besar
  11. Kaliage Kecil
  12. Kapas
  13. Kayu Angin Melintang
  14. Kayu Angin Genteng
  15. Kayu Angin Putri
  16. Kelapa
  17. Kelor Barat
  18. Kelor Timur
  19. Lipan
  20. Macan Besar
  21. Macan Kecil
  22. Melintang Besar
  23. Melintang Kecil
  24. Pabelokan
  25. Panjang Bawah
  26. Panjang Besar
  27. Panjang Kecil
  28. Putri Barat
  29. Putri Gundul
  30. Rakit Tiang/Kelapa Dua
  31. Saktu
  32. Sebaru Kecil
  33. Semut
  34. Semut Besar
  35. Tongkeng
  36. Yu Barat
  37. Yu Timur

b.   Pulau Harapan

  1. Belanda
  2. Bira Besar
  3. Bira Kecil
  4. Bulat
  5. Dua Timur
  6. Buton
  7. Gosong Laga Besar
  8. Gosong Laga Kecil
  9. Harapan
  10. Jagung
  11. Kayu Angin Bira
  12. Kuburan Cina
  13. Laga
  14. Nyamplung
  15. Opak Besar
  16. Pemagaran
  17. Penjaliran Barat
  18. PenjaliranTimur
  19. Perak
  20. Putri Timur
  21. Peteloran Besar
  22. Peteloran kecil
  23. Rengit
  24. Sebaru Besar
  25. Sebira
  26. Semut Kecil/Kayu Angin Semut
  27. Sepa Besar (Barat)
  28. Sepa Kecil (Timur)
  29. Tondan Barat
  30. Tondan Timur

c.    Pulau Panggang

  1. Air
  2. Gosong Pandan
  3. Gosong Pramuka
  4. Gosong Sakati
  5. Karang Bongkok
  6. Karang Congkak
  7. Karya
  8. Kotok Besar
  9. Kotok Kecil
  10. Opal Kecil
  11. Panggang
  12. Paniki
  13. Pramuka
  14. Semak Daun

2.    Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan (terdiri dari 25 pulau)

a.    Kelurahan Pulau Tidung

  1. Karang Beras
  2. Laki
  3. Payung Besar
  4. Payung Kecil
  5. Tidung Besar
  6. Tidung Kecil

b.     Kelurahan Pulau Pari

  1. Biawak
  2. Bokor
  3. Burung
  4. Kudus Lempeng
  5. Gundul
  6. Karang Kudus
  7. Kongsi
  8. Lancang Besar
  9. Lancang Kecil
  10. Pari
  11. Tengah
  12. Tikus

c.    Kelurahan Pulau Untung Jawa

  1. Ayer Besar
  2. Ayer Kecil
  3. Bidadari
  4. Cipir
  5. Damar Besar
  6. Damar Kecil
  7. Dapur
  8. Kelor
  9. Nyamuk Besar
  10. Onrust
  11. Rambut
  12. Talak/Nyamuk
  13. Ubi Besar
  14. Ubi Kecil
  15. Untung Jawa

(Sumber : Buku Saku Kab. Adm. Kep. Seribu thn 2010)(Rst)

PULAU TIDUNG KECIL

PULAU TIDUNG KECIL

ADA SEBUAH SUMUR YANG HINGGA KINI MASIH DIPERCAYA WARGA PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU SELATAN YANG BISA MENGOBAT BERBAGAI JENIS PENYAKIT. SUMUR YANG TERLETAK DI PULAU TIDUNG KECIL YANG BERSEBELAHAN DENGAN PULAU TIDUNG BESAR DINAMAI OLEH WARGA PULAU TIDUNG DENGAN NAMA “SUMUR BAWANG”.